Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

memek montok berbulu
Tips Menurunkan Berat Badan- Beberapa makanan dapat membantu memenuhi nutrisi bagi tubuh, namun juga termasuk makanan terbaik untuk menurunkan berat
badan. Makanan yang baik adalah makanan bergizi yang dapat membantu membangun tulang, mencegah penyakit kronis, meningkatkan penglihatan dan menjaga ketajaman otak.
Tetapi makanan-makanan tersebut akan lebih baik jika juga rendah kalori. Sehingga bisa mendapatkan manfaat dari nutrisinya tanpa harus mengkhawatirkan peningkatan berat badan.


Beberapa makanan tersebut atau makanan terbaik untuk menurunkan berat badan, seperti yang Fakhrinet kutip dari DetikHealth adalah:


jeruk
  • Jeruk; Jeruk mengandung serat tinggi. Jeruk dapat membantu merasa kenyang lebih lama. Sehingga dapat membantu makan lebih sedikit sepanjang hari.
  • Alpukat; Tidak ada alasan untuk takut makan lemak, asalkan lemak tersebut termasuk lemak yang tepat. Asam oleat, suatu senyawa dalam lemak tak jenuh tunggal (MUFAs) dalam alpukat, dapat memicu tubuh untuk membantu merasa kenyang sepanjang hari.
    Pisang
    • Pisang; Pisang adalah makanan baik untuk jantung. Mengonsumsi pisang juga dapat meningkatkan metabolisme, sehingga dapat membakar lemak dan kalori.



  • Kentang; Kentang memang tinggi karbohidrat, tetapi juga 3 kali menyebabkan kenyang lebih lama dibandingkan dengan nasi putih.
  • Keju; Keju mengandung asam lemak yang dapat membantu merasa kenyang dan membakar lebih banyak lemak.
  • Susu rendah lemak; Asam lemak yang sama ditemukan dalam susu, dan protein susu yang dapat membuat merasa kenyang. Susu dengan tambahan kalsium juga dapat membantu menrunkan berat badan. Dalam sebuah penelitian, wanita dapat membakar lemak dan kalori lebih banyak ketika mereka mengonsumsi 1.000-1.400 miligram kalsium per hari.
  • Oat (gandum); Oat kaya serat, sehingga dapat membantu merasa kenyang sepanjang hari. Hanya setengah cangkir kemasan 4,6 gram, termasuk suatu karbohidrat yang sehat yang dapat meningkatkan metabolisme dan membakar lemak.
  • Ikan salmon; Ikan salmon merupakan sumber protein yang dapat membantu merasa kenyang tanpa menambah lemak.
  • Bluberi; Bluberi dikenal sebagai anti-aging yang baik. Satu cangkir bluberi hanya mengandung 80 kalori, dan dapat membantu merasa kenyang dengan 4 gram serat.
  • Brokoli; Dimasak atau mentah, brokoli dikenal sebagai pelawan kanker.
  • Telur; Sarapan yang sarat dengan protein yang akan mengurangi nafsu makan. Satu hasil studi menyatakan bahwa, wanita gemuk yang sarapan telur dapat kehilangan berat badan dua kali lebih banyak dibandingkan wanita yang tidak mengonsumsi telur.


  • Beras merah; Beras merah adalah sumber serat yang baik. Beras merah merupakan suatu karbohidrat yang sehat yang dapat meningkatkan metabolisme dan membakar lemak.
  • Pir; Suatu hasil studi menemukan bahwa, wanita yang makan 3 buah pir sehari dapat mengonsumsi kalori lebih sedikit dan kehilangan berat badan lebih banyak daripada mereka yang tidak mengonsumsi.
  • Kacang almond; Almond dalam tertentu dapat membantu menurunkan berat badan
.
  • Teh hijau; Mengonsumsi teh hijau setiap hari dapat mempermudah menurunkan berat badan, karena teh hijau dapat membantu tubuh merasa kenyang lebih lama. Kandungan antioksidan dalam teh hijau juga dapat membakar lemak dan kalori. Satu hasil studi menemukan bahwa, 5 cangkir teh hijau sehari dapat membantu menurunkan berat badan dua kali lebih banyak.


  • Cokelat murni; Mengonsumsi cokelat dapat memperlambat pencernaan sehingga dapat merasa kenyang lebih lama dan makan lebih sedikit saat. Hasil studi menunjukkan bahwa, makan diet tinggi lemak sehat dapat meningkatkan metabolisme untuk membakar lemak dan kalori.

Artikel Terkait Fakhrinet : klik disini u/ melihat Daftar isi

Body Mass Index (BMI) atau dalam bahasa Indonesia disebut Index Masa Tubuh (IMT) adalah sebuah ukuran “berat terhadap tinggi” badan yang umum digunakan untuk menggolongkan orang dewasa ke dalam kategori Underweight (kekurangan berat badan), Overweight (kelebihan berat badan) dan Obesitas (kegemukan). Rumus atau cara menghitung BMI sangat mudah, yaitu dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan kuadrat dari tinggi badan dalam meter (kg/m²).



Lalu hasil dari BMI tersebut dapat dicocokkan pada Tabel Klasifikasi Internasional dari Underweight, Overweight dan Obesitas pada Orang Dewasa yang disepakati oleh organisasi kesehatan dunia, WHO sebagai berikut :



Contoh: Berat badan saya adalah 77 kg dan tinggi saya adalah 176 cm. Maka BMI saya adalah 77/(1,76)² = 24.86 kg/m². Bila dicocokkan dalam tabel di atas maka saya masih masuk dalam kategori normal.
Nilai BMI dipengaruhi oleh usia namun sama pada kedua jenis kelamin. Nilai BMI dapat tidak sesuai pada derajat kegemukan dari populasi yang berbeda, dalam hubungannya dengan perbedaan proporsi tubuh. Sebagai contoh, ada orang Amerika dan orang Asia yang memiliki nilai BMI yang sama. Namun dilihat dari kenyataan, orang Asia tersebut memiliki proporsi massa lemak yang lebih banyak dari pada massa otot dibandingkan dengan orang Amerika. Analogi lain, mana yang lebih berat ‘lemak 40kg + otot 10kg’ atau ‘lemak 20kg + otot 30kg’ ? Sama saja kan?

Lalu apa gunanya mengetahui nilai BMI?

Dengan mengetahui nilai BMI maka kita dapat mengetahui apakah kita masuk dalam kategori kurang berat badan, normal, atau kelebihan berat badan dan obesitas (kegemukan). Resiko penyakit yang berhubungan dengan derajat kegemukan seperti penyakit jantung, kencing manis bahkan stroke dapat dilihat dari nilai BMI. Sederhananya, BMI adalah alarm peringatan bagi kesehatan anda!
Memang, lebih mudah mendiagnosis obesitas ketimbang memperbaikinya. Namun mengingat mempertahankan berat badan yang sehat mampu mengurangi resiko penyakit jantung 35-55% maka ini adalah target yang penting.
Nah, untuk mempermudah menghitung nilai BMI anda, saya menyediakan kalkulator BMI di sidebar blog ini. Cukup dengan memasukkan berat dan tinggi badan, maka anda dapat mengetahui berapa nilai BMI beserta di kategori mana anda berada. Sebagai tambahan, disertakan juga berat badan ideal atau yang direkomendasikan agar anda dapat mencapai nilai BMI yang normal.
Selamat mencoba! Be Healthy, Be Happy Fakhrinet friend!

Artikel Terkait Fakhrinet : klik disini u/ melihat Daftar isi

Ampicillin 500 mg

Kamis, 12 Januari 2012 0 komentar


Deskripsi:
Ampisilina termasuk golongan penisilina semisintetik yang berasal dari inti penisilina yaitu asam 6-amino penisilinat (6-APA) dan merupakan antibiotik spektrum luas yang bersifat bakterisid.
Secara klinis efektif terhadap kuman gram-positif yang peka terhadap penisilina G dan bermacam-macam kuman gram-negatif, diantaranya:
  1. Kuman gram-positif seperti S. pneumoniae, enterokokus dan stafilokokus yang tidak menghasilkan penisilinase.
  2. Kuman gram-negatif seperti gonokokus, H. influenzae, beberapa jenis E. coli, Shigella, Salmonella dan P. mirabilis.


Komposisi:
Tiap captab mengandung Ampisilina Trihidrat setara dengan Ampisilina Anhidrat 500 mg.


Indikasi:
Ampisilina digunakan untuk pengobatan :
  • Infeksi saluran pernafasan,seperti pneumonia faringitis, bronkitis, laringitis.
  • Infeksi saluran pencernaan, seperti shigellosis, salmonellosis.
  • Infeksi saluran kemih dan kelamin, seperti gonore (tanpa komplikasi), uretritis, sistitis, pielonefritis.
  • Infeksi kulit dan jaringan kulit.
  • Septikemia, meningitis.

Dosis:
Untuk pemakaian oral dianjurkan diberikan � sampai 1 jam sebelum makan.
Cara pembuatan suspensi, dengan menambahkan air matang sebanyak 50 ml, kocok sampai serbuk homogen. Setelah rekonstitusi, suspensi tersebut harus digunakan dalam jangka waktu 7 hari.
Pemakaian parenteral baik secara i.m. ataupun i.v. dianjurkan bagi penderita yang tidak memungkinkan untuk pemakaian secara oral.

Cara pembuatan larutan injeksi :
Kemasan Cara pemakaian Penambahan air untuk injeksi
Vial 0,5 g i.m./i.v. 1,5 ml
Vial 1,0 g i.m./i.v. 2,0 ml
Posologi

Terapi oral
Dewasa dan anak-anak dengan berat badan lebih dari 20 kg :
Infeksi saluran pernafasan : 250 – 500 mg setiap 6 jam.
Infeksi saluran pencernaan, saluran kemih dan kelamin : 500 mg setiap 6 jam.
Anak-anak dengan berat badan 20 kg atau kurang : 50 – 100 mg/kg BB sehari diberikan dalam dosis terbagi setiap 6 jam.
Pada infeksi yang berat dianjurkan diberikan dosis yang lebih tinggi.

Terapi parenteral
Dewasa dan anak-anak dengan berat badan lebih dari 20 kg :
Infeksi saluran pernafasan, kulit dan jaringan kulit : 250 – 500 mg setiap 6 jam.
Infeksi saluran pencernaan, saluran kemih dan kelamin : 500 mg setiap 6 jam.
Septikemia dan bakterial meningitis : 150 – 200 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi setiap 3 – 4 jam, diberikan secara i.v. selama 3 hari selanjutnya secara i.m.
Anak-anak dengan berat badan 20 kg atau kurang :
Infeksi saluran pernafasan, kulit dan jaringan kulit : 25 – 50 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi setiap 6 jam.
Infeksi saluran pencernaan, saluran kemih dan kelamin : 50 – 100 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi setiap 6 jam.
Septikemia dan bakterial meningitis : 100 – 200 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi setiap 3 – 4 jam, diberikan secara i.v. selama 3 hari selanjutnya secara i.m.
Bayi berusia 1 minggu atau kurang :
25 mg/kg BB secara i.m./i.v. setiap 8 – 12 jam.
Bayi berusia lebih dari 1 minggu :
25 mg/kg BB secara i.m./i.v. setiap 6 – 8 jam.

Kemasan:
Ktk 100

No. Registrasi:
GKL8920909904A1

Produksi:
PT Indofarma TBK

Tersedia di apotik dan toko obat terdekat.

Artikel Terkait Fakhrinet : klik disini u/ melihat Daftar isi

Composition:

  • Each tablet contains 30 mg of hydrochloride ambroksol.

Indications:
  • Diseases of the airways accompanied by acute and chronic bronchial secretions are abnormal, especially in the exacerbation and chronic bronchitis, asmatik bronchitis, bronchial asthma.

Dosage:
  • Adults: 1 tablet 3 times daily. Children 5-12 years: a day three times a half tablet. Children 2-5 years: 7.5 mg 3 times daily Children under 2 years: 7.5 mg 2 times a day dose can be reduced to 2 times a day, for the treatment of the old. Should be taken after meals.

Packaging:
Ambroxol 30 mg tablets, box 10 strips @ 10 tablets

No. Registration:
GKL9720921810A1


Production:
TBK PT Indofarma available at the nearest drug store.

Artikel Terkait Fakhrinet : klik disini u/ melihat Daftar isi

Vitamin B memiliki 8 jenis, yaitu vitamin B1, B2, B3, B5, B6, B7, B9, dan B12. Kekurangan vitamin ini bisa menyebabkan berbagai penyakit. Itu sebabnya berbagai banyak multivitamin yang ada menyertakan variasi beberapa jenis vitamin B yang disebut vitamin B-kompleks. Berikut ini penjelasan mengenai jenis vitamin B.

Vitamin B
  1. Vitamin B1
  2. Vitamin B2
  3. Vitamin B3
  4. Vitamin B5
  5. Vitamin B6
  6. Vitamin B7
  7. Vitamin B9
  8. Vitamin B12

  • Vitamin B1 (Tiamin)
Fungsi: Mengubah zat karbohidrat dalam makanan menjadi energi.
Kebutuhan: Wanita 1,1 mg; Pria 1,2 mg; Wanita hamil dan menyusui 1,4 mg.
Sumber: Nasi, roti, sereal, tepung terigu, makanan laut seperti udang, kepiting atau kerang.

  • Vitamin B2 (Riboflavin)
Fungsi: Menjaga kesehatan mata dan kulit.
Kebutuhan: Wanita 1,1 mg; Pria 1,3 mg; Wanita menyusui 1,6 mg.
Sumber: Susu, keju, ayam, brokoli, bayam, jamur.

  • Vitamin B3 (Niasin)
Fungsi: Untuk kesehatan kulit, meningkatkan nafsu makan, memperbaiki sistem pencernaan serta membantu mengubah makanan menjadi energi.
Kebutuhan: Wanita 14 mg; Pria 16 mg; Wanita hamil 18 mg; Wanita menyusui 17 mg.
Sumber: Padi-padian, kacang-kacangan, daging sapi, jamur.

  • Vitamin B5 (Pantothenic Acid)
Fungsi: Bersama-sama dengan jenis vitamin B lainnya, vitamin B5 berguna dalam proses pemecahan lemak, protein, karbohidrat menjadi energi. Manfaat lainnya adalah untuk pembentukan sel darah merah dan membuat vitamin D.
Kebutuhan: Wanita 4 mg; Pria 6 mg; Wanita hamil 5 mg; Wanita menyusui 6 mg.
Sumber: Ayam, ikan sarden, alpukat, semangka.

  • Vitamin B6 (Piridoksin)
Fungsi: Diperlukan dalam proses asam amino dan lemak.
Kebutuhan: Wanita 1,3 mg; Pria 1,3 mg; Wanita hamil 1,9 mg; Wanita menyusui 2 mg. Kebanyakan konsumsi vitamin B6 dengan konsumsi lebih dari 50 mg per hari dapat menyebabkan kerusakan saraf secara permanen.
Sumber: Daging unggas, ikan, sapi, kentang, tomat, pisang, buah yang berwarna ungu dan sayuran hijau.

  • Vitamin B7 (Biotin)
Fungsi: Membantu dalam proses pemecahan lemak, protein menjadi energi yang akan digunakan oleh tubuh.
Kebutuhan: Wanita 25 mkg; Pria 30 mkg; Wanita hamil 30 mkg; Wanita menyusui 35 mkg.
Sumber: Daging ikan salmon, telur, susu, sereal, pisang dan kacang tanah.

  • Vitamin B9 (Folat)
Fungsi: Bertugas agar sel-sel pada tubuh berkembang dengan benar, membentuk sel darah merah dan mencegah kerusakan saraf pada janin.
Kebutuhan: Wanita 400 mkg; Pria 400 mkg; Wanita hamil 600 mkg; Wanita menyusui 500 mkg. Vitamin B12 yang berlebihan akan menyebabkan kekurangan vitamin B12.
Sumber: Susu dan produk olahan susu, bit, hati, melon dan sayuran berdaun hijau.

  • Vitamin B12 (Kobalamin)
Fungsi: Mengubah karbohidrat, protein dan lemak menjadi energi, menjaga sel darah merah tetap sehat, melindungi sel saraf, mencegah penyakit jantung, dan mencegah penyusutan otak yang dapat menyebabkan daya ingat menurun.
Kebutuhan: Wanita 2,4 mkg; Pria 2,4 mkg; Wanita hamil 2,6 mkg; Wanita menyusui 2,8 mkg.
Sumber: Daging sapi, daging ikan, hati, telur, susu, kedelai dan rumput laut.

Ya, vitamin B banyak sekali manfaatnya. Khususnya bagi ibu hamil dan menyusui, harus selalu menjaga agar vitamin B cukup terpenuhi dalam menu makan sehari-hari. Bagi semua orang, vitamin B sangat menunjang terpenuhinya gizi yang baik.


Mengolah Vitamin B

Dalam pengolahan atau jika harus melalui proses pemasakan, sebaiknya tidak direbus. Disarankan untuk mengolah menggunakan microwave atau dengan cara dikukus. Hal ini karena vitamin B mudah larut dalam air dan mudah rusak jika dipanaskan. Sebaiknya, simpan sumber makanan vitamin B dalam keadaan dingin di lemari es agar vitamin ini tetap terjaga.

Walau jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh tidak terlalu banyak, tetapi vitamin B yang memiliki jenis yang beraneka ragam bermanfaat bagi tubuh terutama dalam membantu tubuh mendapatkan energi. Dengan mengetahui jenisnya yang beraneka ragam dengan manfaat yang berbeda, Anda dapat berusaha agar kebutuhan tubuh akan vitamin B tetap terpenuhi.

Artikel Terkait Fakhrinet : klik disini u/ melihat Daftar isi

What Is Asthma?

Jumat, 06 Januari 2012 0 komentar

Asthma (AZ-ma) is a chronic (long-term) lung disease that inflames and narrows the airways. Asthma causes recurring periods of wheezing (a whistling sound when you breathe), chest tightness, shortness of breath, and coughing. The coughing often occurs at night or early in the morning.

Asthma affects people of all ages, but it most often starts during childhood. In the United States, more than 22 million people are known to have asthma. Nearly 6 million of these people are children.
Overview

The airways are tubes that carry air into and out of your lungs. People who have asthma have inflamed airways. This makes the airways swollen and very sensitive. They tend to react strongly to certain inhaled substances.

When the airways react, the muscles around them tighten. This narrows the airways, causing less air to flow into the lungs. The swelling also can worsen, making the airways even narrower. Cells in the airways may make more mucus than normal. Mucus is a sticky, thick liquid that can further narrow your airways.

This chain reaction can result in asthma symptoms. Symptoms can happen each time the airways are inflamed.
Asthma

Figure A shows the location of the lungs and airways in the body. Figure B shows a cross-section of a normal airway. Figure C shows a cross-section of an airway during asthma symptoms.

Figure A shows the location of the lungs and airways in the body. Figure B shows a cross-section of a normal airway. Figure C shows a cross-section of an airway during asthma symptoms.

Sometimes, asthma symptoms are mild and go away on their own or after minimal treatment with an asthma medicine. Other times, symptoms continue to get worse.

When symptoms get more intense and/or more symptoms occur, you're having an asthma attack. Asthma attacks also are called flareups or exacerbations (eg-zas-er-BA-shuns).

It's important to treat symptoms when you first notice them. This will help prevent the symptoms from worsening and causing a severe asthma attack. Severe asthma attacks may require emergency care, and they can be fatal.
Outlook

Asthma can't be cured. Even when you feel fine, you still have the disease and it can flare up at any time.

However, with today's knowledge and treatments, most people who have asthma are able to manage the disease. They have few, if any, symptoms. They can live normal, active lives and sleep through the night without interruption from asthma.

You can take an active role in managing your asthma. For successful, thorough, and ongoing treatment, build strong partnerships with your doctor and other health care providers.
 

Artikel Terkait Fakhrinet : klik disini u/ melihat Daftar isi

Currently, asthma can't be prevented. However, you can take steps to control the disease and prevent its symptoms.

* Learn about your asthma and how to control it.
* Follow your written asthma action plan. (For a sample plan, go to the National Heart, Lung, and Blood Institute's Asthma Action Plan.)
* Use medicines as your doctor prescribes.
* Identify and try to avoid things that make your asthma worse (asthma triggers). However, one trigger you should not avoid is physical activity. Physical activity is an important part of a healthy lifestyle. Talk with your doctor about medicines that can help you stay active.
* Keep track of your asthma symptoms and level of control.
* Get regular checkups for your asthma.

ASMAFor more details about how to prevent asthma symptoms and attacks, go to "How Is Asthma Treated and Controlled?"

Artikel Terkait Fakhrinet : klik disini u/ melihat Daftar isi

Asthma is a long-term disease that requires long-term care. Successful asthma treatment requires you to take an active role in your care and follow your asthma action plan.
Learn How To Manage Your Asthma

Partner with your doctor to develop an asthma action plan. This plan will help you know when and how to take your medicines. The plan also will help you identify your asthma triggers and manage your disease if asthma symptoms worsen.

Children aged 10 or older—and younger children who can handle it—should be involved in developing and following their asthma action plans. For a sample plan, go to the National Heart, Lung, and Blood Institute's Asthma Action Plan.

Most people who have asthma can successfully manage their symptoms at home by following their asthma action plans and having regular checkups. However, it's important to know when to seek emergency medical care.
ASMA
Learn how to use your medicines correctly. If you take inhaled medicines, you should practice using your inhaler at your doctor's office. If you take long-term control medicines, take them daily as your doctor prescribes.

Record your asthma symptoms as a way to track how well your asthma is controlled. Also, your doctor may advise you to use a peak flow meter to measure and record how well your lungs are working.

Your doctor may ask you to keep records of your symptoms or peak flow results daily for a couple of weeks before an office visit. You'll bring these records with you to the visit. (For more information on using a peak flow meter, go to "How Is Asthma Treated and Controlled?")

These steps will help you keep track of how well you're controlling your asthma over time. This will help you spot problems early and prevent or relieve asthma attacks. Recording your symptoms and peak flow results to share with your doctor also will help him or her decide whether to adjust your treatment.
Ongoing Care

Have regular asthma checkups with your doctor so he or she can assess your level of asthma control and adjust your treatment as needed. Remember, the main goal of asthma treatment is to achieve the best control of your asthma using the least amount of medicine. This may require frequent adjustments to your treatments.

If it's hard to follow your asthma action plan or the plan isn't working well, let your health care team know right away. They will work with you to adjust your plan to better suit your needs.

Get treatment for any other conditions that can interfere with your asthma management.
Watch for Signs That Your Asthma Is Getting Worse

Your asthma may be getting worse if:

* Your symptoms start to occur more often, are more severe, and/or bother you at night and cause you to lose sleep.
* You're limiting your normal activities and missing school or work because of your asthma.
* Your peak flow number is low compared to your personal best or varies a lot from day to day.
* Your asthma medicines don't seem to work well anymore.
* You have to use your quick-relief inhaler more often. If you're using quick-relief medicine more than 2 days a week, your asthma isn't well controlled.
* You have to go to the emergency room or doctor because of an asthma attack.

If you have any of these signs, see your doctor. He or she may need to change your medicines or take other steps to control your asthma.
ASMA

Partner with your health care team and take an active role in your care. This can help you better control your asthma so it doesn't interfere with your activities and disrupt your life.

Artikel Terkait Fakhrinet : klik disini u/ melihat Daftar isi

TINJAUAN TEORI
Pengertian
Trauma kepala adalah suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala, tulang tengkorak atau otak yang terjadi akibat injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada kepala. (Suriadi & Rita Yuliani, 2001)
Klasifikasi
Klasifikasi trauma kepala berdasarkan Nilai Skala Glasgow (SKG):
1. Minor
• SKG 13 – 15
• Dapat terjadi kehilangan kesadaran atau amnesia tetapi kurang dari 30 menit.
• Tidak ada kontusio tengkorak, tidak ada fraktur cerebral, hematoma.
2. Sedang
• SKG 9 – 12
• Kehilangan kesadaran dan amnesia lebih dari 30 menit tetapi kurang dari 24 jam.
• Dapat mengalami fraktur tengkorak.
3. Berat
• SKG 3 – 8
• Kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari 24 jam.
• Juga meliputi kontusio serebral, laserasi, atau hematoma intrakranial.
Etiologi
• Kecelakaan, jatuh, kecelakaan kendaraan bermotor atau sepeda, dan mobil.
• Kecelakaan pada saat olah raga, anak dengan ketergantungan.
• Cedera akibat kekerasan.
Patofisiologis
Cedera memegang peranan yang sangat besar dalam menentukan berat ringannya konsekuensi patofisiologis dari suatu trauma kepala. Cedera percepatan (aselerasi) terjadi jika benda yang sedang bergerak membentur kepala yang diam, seperti trauma akibat pukulan benda tumpul, atau karena kena lemparan benda tumpul. Cedera perlambatan (deselerasi) adalah bila kepala membentur objek yang secara relatif tidak bergerak, seperti badan mobil atau tanah. Kedua kekuatan ini mungkin terjadi secara bersamaan bila terdapat gerakan kepala tiba-tiba tanpa kontak langsung, seperti yang terjadi bila posisi badan diubah secara kasar dan cepat. Kekuatan ini bisa dikombinasi dengan pengubahan posisi rotasi pada kepala, yang menyebabkan trauma regangan dan robekan pada substansi alba dan batang otak.
Cedera primer, yang terjadi pada waktu benturan, mungkin karena memar pada permukaan otak, laserasi substansi alba, cedera robekan atau hemoragi. Sebagai akibat, cedera sekunder dapat terjadi sebagai kemampuan autoregulasi serebral dikurangi atau tak ada pada area cedera. Konsekuensinya meliputi hiperemi (peningkatan volume darah) pada area peningkatan permeabilitas kapiler, serta vasodilatasi arterial, semua menimbulkan peningkatan isi intrakranial, dan akhirnya peningkatan tekanan intrakranial (TIK). Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan cedera otak sekunder meliputi hipoksia, hiperkarbia, dan hipotensi.
Genneralli dan kawan-kawan memperkenalkan cedera kepala “fokal” dan “menyebar” sebagai kategori cedera kepala berat pada upaya untuk menggambarkan hasil yang lebih khusus. Cedera fokal diakibatkan dari kerusakan fokal yang meliputi kontusio serebral dan hematom intraserebral, serta kerusakan otak sekunder yang disebabkan oleh perluasan massa lesi, pergeseran otak atau hernia. Cedera otak menyebar dikaitkan dengan kerusakan yang menyebar secara luas dan terjadi dalam empat bentuk yaitu: cedera akson menyebar, kerusakan otak hipoksia, pembengkakan otak menyebar, hemoragi kecil multipel pada seluruh otak. Jenis cedera ini menyebabkan koma bukan karena kompresi pada batang otak tetapi karena cedera menyebar pada hemisfer serebral, batang otak, atau dua-duanya.
Manifestasi Klinis
o Hilangnya kesadaran kurang dari 30 menit atau lebih
o Kebungungan
o Iritabel
o Pucat
o Mual dan muntah
o Pusing kepala
o Terdapat hematoma
o Kecemasan
o Sukar untuk dibangunkan
o Bila fraktur, mungkin adanya ciran serebrospinal yang keluar dari hidung (rhinorrohea) dan telinga (otorrhea) bila fraktur tulang temporal.
Komplikasi
 Hemorrhagie
 Infeksi
 Edema
 Herniasi
Pemeriksaan Penunjang
 Laboratorium: darah lengkap (hemoglobin, leukosit, CT, BT)
 Rotgen Foto
 CT Scan
 MRI
Penatalaksanaan
Secara umum penatalaksanaan therapeutic pasien dengan trauma kepala adalah sebagai berikut:
1. Observasi 24 jam
2. Jika pasien masih muntah sementara dipuasakan terlebih dahulu.
3. Berikan terapi intravena bila ada indikasi.
4. Anak diistirahatkan atau tirah baring.
5. Profilaksis diberikan bila ada indikasi.
6. Pemberian obat-obat untuk vaskulasisasi.
7. Pemberian obat-obat analgetik.
8. Pembedahan bila ada indikasi.
Rencana Pemulangan
1. Jelaskan tentang kondisi anak yang memerlukan perawatan dan pengobatan.
2. Ajarkan orang tua untuk mengenal komplikasi, termasuk menurunnya kesadaran, perubahan gaya berjalan, demam, kejang, sering muntah, dan perubahan bicara.
3. Jelaskan tentang maksud dan tujuan pengobatan, efek samping, dan reaksi dari pemberian obat.
4. Ajarkan orang tua untuk menghindari injuri bila kejang: penggunaan sudip lidah, mempertahankan jalan nafas selama kejang.
5. Jelaskan dan ajarkan bagaimana memberikan stimulasi untuk aktivitas sehari-hari di rumah, kebutuhan kebersihan personal, makan-minum. Aktivitas bermain, dan latihan ROM bila anak mengalami gangguan mobilitas fisik.
6. Ajarkan bagaimana untuk mencegah injuri, seperti gangguan alat pengaman.
7. Tekankan pentingnya kontrol ulang sesuai dengan jadual.
8. Ajarkan pada orang tua bagaimana mengurangi peningkatan tekanan intrakranial.
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
 Riwayat kesehatan: waktu kejadian, penyebab trauma, posisi saat kejadian, status kesadaran saat kejadian, pertolongan yang diberikan segera setelah kejadian.
 Pemeriksaan fisik
 Sistem respirasi : suara nafas, pola nafas (kusmaull, cheyene stokes, biot, hiperventilasi, ataksik)
 Kardiovaskuler : pengaruh perdarahan organ atau pengaruh PTIK
 Sistem saraf :
 Kesadaran à GCS.
 Fungsi saraf kranial à trauma yang mengenai/meluas ke batang otak akan melibatkan penurunan fungsi saraf kranial.
 Fungsi sensori-motor à adakah kelumpuhan, rasa baal, nyeri, gangguan diskriminasi suhu, anestesi, hipestesia, hiperalgesia, riwayat kejang.
 Sistem pencernaan
 Bagaimana sensori adanya makanan di mulut, refleks menelan, kemampuan mengunyah, adanya refleks batuk, mudah tersedak. Jika pasien sadar à tanyakan pola makan?
 Waspadai fungsi ADH, aldosteron : retensi natrium dan cairan.
 Retensi urine, konstipasi, inkontinensia.
 Kemampuan bergerak : kerusakan area motorik à hemiparesis/plegia, gangguan gerak volunter, ROM, kekuatan otot.
 Kemampuan komunikasi : kerusakan pada hemisfer dominan à disfagia atau afasia akibat kerusakan saraf hipoglosus dan saraf fasialis.
 Psikososial à data ini penting untuk mengetahui dukungan yang didapat pasien dari keluarga.
B. Diagnosa
Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul adalah:
1. Resiko tidak efektifnya bersihan jalan nafas dan tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan gagal nafas, adanya sekresi, gangguan fungsi pergerakan, dan meningkatnya tekanan intrakranial.
2. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema serebral dan peningkatan tekanan intrakranial.
3. Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan tirah baring dan menurunnya kesadaran.
4. Resiko kurangnya volume cairan berhubungan mual dan muntah.
5. Resiko injuri berhubungan dengan menurunnya kesadaran atau meningkatnya tekanan intrakranial.
6. Nyeri berhubungan dengan trauma kepala.
7. Resiko infeksi berhubungan dengan kondisi penyakit akibat trauma kepala.
8. Kecemasan orang tua-anak berhubungan dengan kondisi penyakit akibat trauma kepala.
9. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi.
Intervensi Keperawatan
1. Resiko tidak efektifnya jalan nafas dan tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan gagal nafas, adanya sekresi, gangguan fungsi pergerakan, dan meningkatnya tekanan intrakranial.
Tujuan : Pola nafas dan bersihan jalan nafas efektif yang ditandai dengan tidak ada sesak atau kesukaran bernafas, jalan nafas bersih, dan pernafasan dalam batas normal.
Intervensi :
 Kaji Airway, Breathing, Circulasi.
 Kaji anak, apakah ada fraktur cervical dan vertebra. Bila ada hindari memposisikan kepala ekstensi dan hati-hati dalam mengatur posisi bila ada cedera vertebra.
 Pastikan jalan nafas tetap terbuka dan kaji adanya sekret. Bila ada sekret segera lakukan pengisapan lendir.
 Kaji status pernafasan kedalamannya, usaha dalam bernafas.
 Bila tidak ada fraktur servikal berikan posisi kepala sedikit ekstensi dan tinggikan 15 – 30 derajat.
 Pemberian oksigen sesuai program.
2. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema serebral dan peningkatan tekanan intrakranial.
Tujuan : Perfusi jaringan serebral adekuat yang ditandai dengan tidak ada pusing hebat, kesadaran tidak menurun, dan tidak terdapat tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial.
Intervensi :
 Tinggikan posisi kepala 15 – 30 derajat dengan posisi “midline” untuk menurunkan tekanan vena jugularis.
 Hindari hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya
 peningkatan tekanan intrakranial: fleksi atau hiperekstensi pada leher, rotasi kepala, valsava meneuver, rangsangan nyeri, prosedur (peningkatan lendir atau suction, perkusi).
 tekanan pada vena leher.
 pembalikan posisi dari samping ke samping (dapat menyebabkan kompresi pada vena leher).
 Bila akan memiringkan anak, harus menghindari adanya tekukan pada anggota badan, fleksi (harus bersamaan).
 Berikan pelembek tinja untuk mencegah adanya valsava maneuver.
 Hindari tangisan pada anak, ciptakan lingkungan yang tenang, gunakan sentuhan therapeutic, hindari percakapan yang emosional.
 Pemberian obat-obatan untuk mengurangi edema atau tekanan intrakranial sesuai program.
 Pemberian terapi cairan intravena dan antisipasi kelebihan cairan karena dapat meningkatkan edema serebral.
 Monitor intake dan out put.
 Lakukan kateterisasi bila ada indikasi.
 Lakukan pemasangan NGT bila indikasi untuk mencegah aspirasi dan pemenuhan nutrisi.
 Libatkan orang tua dalam perawatan anak dan jelaskan hal-hal yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial.
3. Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan tirah baring dan menurunnya kesadaran.
Tujuan : Kebutuhan sehari-hari anak terpenuhi yang ditandai dengan berat badan stabil atau tidak menunjukkan penurunan berat badan, tempat tidur bersih, tubuh anak bersih, tidak ada iritasi pada kulit, buang air besar dan kecil dapat dibantu.
Intervensi :
 Bantu anak dalam memenuhi kebutuhan aktivitas, makan – minum, mengenakan pakaian, BAK dan BAB, membersihkan tempat tidur, dan kebersihan perseorangan.
 Berikan makanan via parenteral bila ada indikasi.
 Perawatan kateter bila terpasang.
 Kaji adanya konstipasi, bila perlu pemakaian pelembek tinja untuk memudahkan BAB.
 Libatkan orang tua dalam perawatan pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan demonstrasikan, seperti bagaimana cara memandikan anak.
4. Resiko kurangnnya volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah.
Tujuan : Tidak ditemukan tanda-tanda kekurangan volume cayran atau dehidrasi yang ditandai dengan membran mukosa lembab, integritas kulit baik, dan nilai elektrolit dalam batas normal.
Intervensi :
 Kaji intake dan out put.
 Kaji tanda-tanda dehidrasi: turgor kulit, membran mukosa, dan ubun-ubun atau mata cekung dan out put urine.
 Berikan cairan intra vena sesuai program.
5. Resiko injuri berhubungan dengan menurunnya kesadaran atau meningkatnya tekanan intrakranial.
Tujuan : Anak terbebas dari injuri.
Intervensi :
 Kaji status neurologis anak: perubahan kesadaran, kurangnya respon terhadap nyeri, menurunnya refleks, perubahan pupil, aktivitas pergerakan menurun, dan kejang.
 Kaji tingkat kesadaran dengan GCS
 Monitor tanda-tanda vital anak setiap jam atau sesuai dengan protokol.
 Berikan istirahat antara intervensi atau pengobatan.
 Berikan analgetik sesuai program.
6. Nyeri berhubungan dengan trauma kepala.
Tujuan : Anak akan merasa nyaman yang ditandai dengan anak tidak mengeluh nyeri, dan tanda-tanda vital dalam batas normal.
Intervensi :
 Kaji keluhan nyeri dengan menggunakan skala nyeri, catat lokasi nyeri, lamanya, serangannya, peningkatan nadi, nafas cepat atau lambat, berkeringat dingin.
 Mengatur posisi sesuai kebutuhan anak untuk mengurangi nyeri.
 Kurangi rangsangan.
 Pemberian obat analgetik sesuai dengan program.
 Ciptakan lingkungan yang nyaman termasuk tempat tidur.
 Berikan sentuhan terapeutik, lakukan distraksi dan relaksasi.
7. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya injuri.
Tujuan : Anak akan terbebas dari infeksi yang ditandai dengan tidak ditemukan tanda-tanda infeksi: suhu tubuh dalam batas normal, tidak ada pus dari luka, leukosit dalam batas normal.
Intervensi :
 Kaji adanya drainage pada area luka.
 Monitor tanda-tanda vital: suhu tubuh.
 Lakukan perawatan luka dengan steril dan hati-hati.
 Kaji tanda dan gejala adanya meningitis, termasuk kaku kuduk, iritabel, sakit kepala, demam, muntah dan kenjang.
8. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kondisi penyakit akibat trauma kepala.
Tujuan : Anak dan orang tua akan menunjukkan rasa cemas berkurang yang ditandai dengan tidak gelisah dan orang tua dapat mengekspresikan perasaan tentang kondisi dan aktif dalam perawatan anak.
Intervensi :
 Jelaskan pada anak dan orang tua tentang prosedur yang akan dilakukan, dan tujuannya.
 Anjurkan orang tua untuk selalu berada di samping anak.
 Ajarkan anak dan orang tua untuk mengekspresikan perasaan.
 Gunakan komunikasi terapeutik.
9. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi.
Tujuan : Tidak ditemukan tanda-tanda gangguan integritas kulit yang ditandai dengan kulit tetap utuh.
Intervensi :
 Lakukan latihan pergerakan (ROM).
 Pertahankan posisi postur tubuh yang sesuai.
 Rubah posisi setiap 2 jam sekali atau sesuai dengan kebutuhan dan kondisi anak.
 Kaji area kulit: adanya lecet.
 Lakukan “back rub” setelah mandi di area yang potensial menimbulkan lecet dan pelan-pelan agar tidak menimbulkan nyeri.
KESIMPULAN
Trauma kepala terdiri dari trauma kulit kepala, tulang kranial dan otak. Klasifikasi cedera kepala meliputi trauma kepala tertutup dan trauma kepala terbuka yang diakibatkan oleh mekanisme cedera yaitu cedera percepatan (aselerasi) dan cedera perlambatan (deselerasi).
Cedera kepala primer pada trauma kepala menyebabkan edema serebral, laserasi atau hemorragi. Sedangkan cedera kepala sekunder pada trauma kepala menyebabkan berkurangnya kemampuan autoregulasi pang pada akhirnya menyebabkan terjadinya hiperemia (peningkatan volume darah dan PTIK). Selain itu juga dapat menyebabkan terjadinya cedera fokal serta cedera otak menyebar yang berkaitan dengan kerusakan otak menyeluruh.
Komplikasi dari trauma kepala adalah hemorragi, infeksi, odema dan herniasi. Penatalaksanaan pada pasien dengan trauma kepala adalah dilakukan observasi dalam 24 jam, tirah baring, jika pasien muntah harus dipuasakan terlebih dahulu dan kolaborasi untuk pemberian program terapi serta tindakan pembedahan.
DAFTAR PUSTAKA
• Suriadi & Rita Yuliani. Asuhan Keperawatan Pada Anak , Edisi I. Jakarta: CV Sagung Seto; 2001.
• Hudak & Gallo. Keperawatan Kritis, Pendekatan Holistik , Volume II. Jakarta: EGC; 1996.
• Cecily LB & Linda AS. Buku Saku Keperawatan Pediatrik . Edisi 3. Jakarta: EGC; 2000.
• Suzanne CS & Brenda GB. Buku Ajar Medikal Bedah . Edisi 8. Volume 3. Jakarta: EGC; 1999.

Artikel Terkait Fakhrinet : klik disini u/ melihat Daftar isi
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

    Daftar ISI

    Berdasarkan Tanggal Posting
    Kalau yang ini untuk melihat Berdasarkan Label / Category

    Pengikut